Oleh : Wiwik Hujan yang lepas pada tampuknya. Ada yang patah di sepengujung pengalah. Ia yang menari, terus menari. Tak ada yang lepas di kemarau, walau terus menganak pada sungai. Ranting-ranting hanyut tersangkut, tak ada yang memungut. Hujan patah pada musimnya. Dan siapa yang turun dari tampuk hujan. Gemuruh mengiring. Iring ia ke muara. berlabuh di bandar-bandar. Kabar pun sampai pada tarikhnya. Orang-orang mencatat. Menyimpannya di mulut lontar. Angin terus mendesau membawa waktu. Ia tak perlu risau. Teruslah menari dalam diri. Anak dagang yang datang selepas musim. Hanya persuaan, setelah muara kering dan kapal yang membangkai. Dalam peti-peti yang terhempas. Ia menunggu angin gunung yang kembali menghimbau.