Langsung ke konten utama

Revolusi Birokrasi Pendidikan

Oleh : Martian Bagas Kurniawan
Mahasiswa Fakultas Agama Islam Program Study Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Darul Ulum Lamongan ( UNISDA ) th. 2014
Pendidikan  merupakan alternatif yang sangat terbaik dalam meningkatkan kualitas anak bangsa di Indonesia ini. Mencerdaskan kehidupan bangsa, begitulah ungkapan ideal tujuan pendidikan nasional Negara Indonesia yang tertera pada pembukaan UUD 1945 Alinea ke-4, artinya orientasi pendidikan harus di jadikan sebagai media pembebasan pikiran manusia dari kebodohan bukan malah menjadikan peserta didik untuk menjadi robot dan kerbau yang di colok hidungnya, sehingga hanya mampu mengikuti segala bentuk pembodohan yang tersistematis atau lebih sederhananya pendidikan yang tidak ilmiah dan terus diamini dalam bentuk dogma-dogma. Semua layak mendapatkan pendidikan, baik dalam masyarakat, lingkungan, maupun sekolahan. Semua bisa melihat bagaimana pendidikan di indonesia berjalan selama ini. Diskursus pendidikan bukanlah merupakan suatu entitas yang berdiri sendiri, melaikan di kelilingi oleh entitas lain yang saling berkaitan, problem sosial, politik, budaya, suku, Ras agama, falsafah, ekonomi dan lai-lain. Merupakan entitas yang sangat berpengaruh terhadap pendidikan. Sebut saja krisis kedisplinan yang sangat melanda negeri kita, mau tak mau berimbas pada keluaran setiap tahun siswa/mahasiswa.
  Sering kali siswa/mahasiswa dituntut untuk sangat disiplin, terlambat dihukum, tugas telat dihukum seolah-olah sebagai ancaman bagi peserta didik. Sementara daya beli pengguna sekolah dan kampus, dalam hal ini adalah siswa dan mahasiswa semakin turun. Maka semua itu membawa konsekuensi logis pada pelaksanaan pendidikan yang kurang optimal. Jelaslah, bahwa kondisi kedisiplinan mempengaruhi realitas pendidikan kita. 

Revolusi Mental menjadi agenda penting era Presiden Joko Widodo. Reformasi yang dilaksanakan di Indonesia sejak tumbangnya rezim Orde baru masih sebatas melakukan perombakan yang sifatnyainstitusional. Belum menyentuh paradigma, mendset, atau budaya politik dalam rangka pembangunan bangsa ( Nation Building ). Nation Building tidak mungkin maju kalau sekedar mengandalkan perombakan institusional tanpa melakukan perombakan manusiannya atau sifat mereka yang menjalankan sistem ini. Sehebat apapun kelembagaan yang kita ciptakan, selama ia ditangani oleh manusia dengan salah kaprah alias untuk dibuat lahan sebagai kekuasaan atas nama pribadi maka secara tidak langsung menghambat proses kemajuan sebuah pendidikan tersebut. Agar perubahan benar-benar bermakna dan berkesinambungan, sesuai dengan Proklamasi Indonesia yang merdeka, adil, dan makmur, maka perlu melakukan revolusi mental, terutama revolusi mental birokrasi sebagai motor penggeraknya.

Karena pendidikan lahan dan ajang untuk memintarkan manusia untuk meninggikan SDM bukan untuk mencari uang dan memenuhi hasrat nafsu diri. Bagaimana kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan dipatuhi sedangkan kebijakan dan peraturan tersebut hanya dirasa sebagai iklan yang tidak ada gaya untuk menarik? Memang sungguh miris melihat realita sekarang. Kurangnya kesadaran yang tinggi pada diri sehingga tanggung jawab tidak terpenuhi dan bayaran harus pasti. Mengelus dada dan gelengkan kepala sambil meresapi keadaan.

Perilaku aparatur dapat dipengaruhi oleh adanya peran pengawasan yang dibangun, baik pengawasan fungsional yang berada dalam lingkaran birokrasi maupun pengawasan masyarakat dan pemangku kepentingan yang berada dalam lingkaran birokrasi. Rendahnya sistem pengawasan terhadap birokrasi mengakibatkan kinerja birokrasi tidak maksimal, dan KKN ( Korupsi,kolusi dan Nepotisme ) pun semakin marak. Sistem pengawasan melekat 9 Pengawasan Atasan Langsung dan Sistem Pengadilan Internal ) dalam praktiknya tidak berjalan dengan baik. Hal ini dapat disebabkan faktor ewuh pakewuh antara atasan dan bawahan. Untuk itu perlu dibangun suatu sistem pengawasan yang efektif terhadap birokrasi, agar penyimpangan dapat dicegah sedini mungkin pengawasan fungsional yang berintegritas dan peran aktif pengawasan masyarakat dapat mempengaruhi perilaku aparatur dalam melakukan tugas dan fungsinya dengan baik. Misalnya media massa dengan beritanya dan masyarakat dengan cara menyampaikan keluhan-keluhan tentang adanya in-efesien dalam pemerintahan, sehingga mendorong aparatur mau tidak mau harus merespon melalui tindakan nyata untuk bekerja lebih efesiensi. Jika pengawasan publik terus menerus dilakukan, maka terbentuklah perilaku aparatur yang baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RUMAHKU ISTANAHKU

Keduwul (Sukodadi) Lamongan, Sabtu (30/01/2021) bentuk rasa syukur  pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon AD-DAKHIL Unisda Lamongan  gelar acara tasyakuran dan peresmian Basecamp  sebagai wadah untuk belajar dan bediskusi serta pengembangan potensi bagi kader kader  PMII. Sebelumnya sahabat-sahabat PR.PMII AD-DAKHIL mencari kontrakan untuk di jadikan basecamp disekitar sukodadi  sebanyak 3 kali namun gagal karena terkendala oleh beberapa faktor, namun itu semua tidak menyurutkan semangat juang dalam mencari kontrakan.  Dalam acara tasyakuran dan peresmian basecamp berjalan dengan meriah karena juga di hadiri oleh Bapak Mulyono selaku kepala desa keduwul, dalam kesempatan ini Beliau  menyampaikan pesan bagi kader kader PMII Ad-Dakhil “ Dengan kehadiran mahasiswa mahasiswa Unisda harus mampu membawa perubahan di desa keduwul serta mampu mengabdi di masyarakat, seperti : ikut mengajar di TPQ dan Madrasah Diniyah ataupun yang lain”...

Menyambut Kedatangan Bulan Suci Ramadhan

Sakral,26/05,  meski banyak kesalahan yang disetiap harinya bertambah, baik disengaja maupun  tidak sengaja, baik melalui lisan, tingakah laku maupun perbuatan, di sadari maupun tidak disadari. Sebelum datangnya bulan suci Ramadhan PR PMII AD-DAKHIL menyambut dengan senang dan mengusung tema PMII KU SUCI. Kegiatan ini dilaksanakan di Ponpes & Panti Asuhan Al-Muawanah Rt (02) Rw(05) jl. Sunan Giri Lamongan. Kegiatan ini di pelopori oleh Sahabat Ana Akhirotun Nadiya (Ketupel) dan di ikuti puluhan sahabat-sahabat.  Dengan berbagai rangkaian acara, untuk mengawali kegiatan tersebut sahabat-sahabat mengawali dengan khotmil Qur’an di mulai sejak jam 8 pagi hingga pukul 11.30. karena bertepatan hari jumat, sahabat-sahabat kaum hawa harus meninggalkan tempat untuk melakukan sholat jumat berjama’ah. Seusai sholat jumat kegiatan berlanjut ke pembukaan opening ceremony, pemutar roda acara segera mengambil tempat dan berjalan seperti bagaimana pemutar roda acara ( MC ) sah...