Oleh: Akhirun Nahdia
Mahasiswa adalah kaum intelektual menurut pandangan
banyak orang,
tak terkecuali siapapun itu, lebih-lebih bagi para mahasiswa. Namun apa
buktinya? apakah
dengan anda memakai jas almamater kemana-mana? ataukah penampilan yang terlihat gagah
dan berwibawa? ataukah
yang mempunyai banyak koleksi baju, tas, sepatu dan lain sebagainya? bukan itu yang dinamakan
kaum intelek jika anda tak pernah membaca buku dan berdiskusi. Apakah anda
sudah merasa cukup hanya dengan ilmu yang diberikan oleh para dosen? tanpa menambah ilmu di luar jam kuliah. Ilmu
yang anda peroleh
saat duduk di dalam kelas sangat belum
seberapa, masih banyak ilmu yang belum
diperoleh. Namun, anda sudah merasa cukup dan puas
dengan ilmu yang hanya diperoleh
di bangku
kelas. Itulah kesalahan terbesar kawan-kawan yang ujungnya hanya kuliah
pulang_kuliah pulang. Apakah menurut anda berdiskusi itu membuang waktu? yang seharusnya anda
gunakan untuk duduk santai di rumah?
masa perjuangan adalah
saat ini, jika anda tak menanam maka jangan berharap untuk memanen. Jika anda
sekarang tak berjuang, berkorban dan bersusah payah mencari ilmu
sebanyak-banyaknya, maka jangan harap nanti anda akan menjadi orang yang besar
dan sukses. Anda mengandalkan gelar sarjana
anda? Untuk apa gelar sarjana namun tak ada isinya?
Apa kalian tak sadar jika masyarakat mengklaim
seorang mahasiswa pasti bisa segalanya? jika anda dimintai tolong namun
anda tak bisa, mau disembunyikan
dimana wajah dan gelar anda? mungkin sekarang belum bisa
merasakan kepedihan dan kemaluan, namun
suatu hari nanti pasti akan
merasakan penyesalan yang begitu dahsyat dan hanya akan membuat anda semakin
jatuh dan terpuruk. Lantas anda akan berbuat apa? toh semuanya sudah
terjadi kan? hati
akan menjerit meronta-ronta menginginkan waktu enggan berlalu dan ingin mengulangnya kembali, sungguh mustahil.
Karena itulah,
sebelum kita merasakan perih yang begitu dalam, mari kita gemari membaca buku
dan berdiskusi. Kita tidak akan bisa
merasakan manfaatnya pada saat ini, namun nanti kita akan merasakan manfaat
yang tak ada tandingannya, yang membuat anda bangga karena tak membuang waktu
saat muda.
Bahkan penulis sendiri pun pernah menemui kasus mahasiswa
berdialog dengan tukang becak, kenyataannya mahasiswa menggeleng-gelengkan
kepalanya karena tak menyangka bahwa tukang becak lebih intelek dari pada
mahasiswa yang diklaim sebagai kaum intelek. Lalu dimanakah letak intelektual
para mahasiswa yang sesungguhnya?
Bahkan dengan tukang becak saja kalah, apalagi yang lebih
tinggi sedikit dari tukang becak? apalagi yang lebih tinggi dari anda (kaum
intelek)? Sangat miris, benar-benar miris.
Marilah kita bangun pergerakan dalam diri kita yang
membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Membuktikan bahwa kita memang
benar-benar kaum intelek yang sesungguhnya. Mari
kita raba dan rasakan apa kekurangan kita saat ini? Lalu bagaimana cara agar
kekurangan itu tak menjadi halangan kita untuk sukses.
Kehidupan di masyarakat lebih rumit dari pada mata kuliah anda saat
ini. (ana/wks).
Komentar
Posting Komentar