Langsung ke konten utama

Sejarah Munculnya Aswaja

ABDUL ROZAK
            Pada masa Rhasululloh Saw masih hidup, istilah aswaja sudah ada namun tidak menunjuk pada suatu aliran tertentu. Yang dimaksud ASWAJA (al-ahlu as-sunnah wa al-jama’ah) adalah orang-orang islam secara keseluruhan. Dalam suatu hadist telah dijelaskan yang artinya “Sesungguhnya Bani isro’il akan terpecah menjadi 70 golongan, dan umat ku 70 golongan, dan hanya satu golongan yang akan selamat”,  kemudian para sahabat bertanya siapakah satu golongan tersebut? Lalu Nabi Saw menjawab “Yaitu golongan dimana aku dan sahabatku berada”. Hadis ini yang kemudian sering digunakan oleh orang-orang NU sebagai salah satu dalil atau dasar tentang Ahlussunnah wal jama’ah.
Ssepeninggal Rosulullah Saw, Abu bakar syiddiq terpilih menjadi khalifah yang pertama melalui forum yang demokratis. Jadi, Abu Bakar terpilih menjadi khalifah bukan karena wasiat atau pesan dari Nabi Saw. Setelah Abu Bakar wafat lalu digantikan oleh Umar ibnu al-khattab yang ditunjuk oleh para sahabat yang bersifat eksklusif. Khalifah ke-tiga adalah Usman bin Affan yang juga dipilih dengan cara seksama. Inilah yang disebut sebagai dasar-dasar demokrasi. Selang beberapa tahun kemudian setelah Usman bin Affan wafat dan khalifah ke-empat adalah Ali bin Abu Thalib.
            Pada masa pemerintahan Usman bin Affan, ada seorang gubernur Syiria yang bernama Muawiayah Bin Abu Sufyan. Ketika Ali Ra terpilih menjadi khalifah, gubernur Syiria tersebut tidak setuju hingga melakukan pemberontakan. Bentrok antara kelompok Ali dan Muawiyah pun tak bisa terelakkan, peristiwa ini lebih kita kenal dengan peristiwa perang Shifin yang terjadi pada 26-28 Juli 657 SM. Dalam perang Shifin tersebut dimenangkan oleh pasukan Ali dengan mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan Al-quran di atasnya tanda perdamaian.
            Maka terjadilah suatu perundingan dari kedua kubu dalam perang shifin tersebut, kemudian dari dua  belah pihak mengutus seseorang  untuk berunding. Dari pihak  Ali Ra diwakili oleh Abu Musa  Al-Asy’ary sedangkan dari pihak  sang gubernur merepresentasi Amru bin Ash, dalam sejarah perundingan ini disebut dengan peristiwa tahkim. Jika ditinjau latar belakang kedua silegasi, Abu Musa dan Amru bin Ash maka  akan terdapat ketidak seimbangan. Abu Musa merupakan Ulama sedangkan Amru bin Ash adalah seorang politisi. Oleh karena itu tidak mengejutkan jika Amru bin Ash bermain politik dalam perundingan tahkim tersebut dengan berkata kepada Abu Musa “ wahai Abu Musa, marilah  kita pertama-tama membuat kesepakatan bahwa pemerintah ada di tengah-tengah atau kosong (vacum of power) tidak ada yang menduduki”. Abu Musa  pun setuju jika memang itu yang terbaik. Lalu Amru bin Ash mempersilahkan Abu Musa untuk berpidato dengan berkata “karena engkau yang lebih tua dan lebih alim, maka engkaulah yang lebih pantas untuk berpidato terlebih dahulu”. Abu Musa pun naik untuk berpidato ke atas mimbar “Wahai saudara-saudara kaum muslimin penduduk Mekkah  yang sangat kami hormati, dengan ini saya  Abu Musa bin Al-Asy’ary mewakili pemerintahan khalifah Ali RA  dengan sah meletakkan jabatanya”. Seharusnya Amru bin Ash mengatakan yang serupa namun pada realitanya dia  justru  berkata “Wahai saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia, Abu Musa Al-Asy’Ari mewakili khalifah Ali RA telah meletakkan jabatanya,  maka dari itu jabatan saya ambil alih dan untuk diserahkan kepada Muawiyah bin Abi Sufyan”.
            Dari peristiwa inilah umat islam terpecah menjadi dua golongan yaitu syi’ah dan khawarij. Syi’ah adalah golongan pendukung Ali RA, sedangkan khawarij adalah golongan dimana tidak memihak kepada Ali RA atau muawiyah, dengan alasan hukum Allah atau al-quran segingga khawarij (kharaja, keluar). Sehingga pada masa pemerintahan Muawiyah terpecah menjadi tiga golongan. Golongan pertama adalah pengikut setia Ali RA, golongan ke-dua penolak Ali RA dan yang ke-tiga adalah pendukung muawiyah.
            Sekitar pada akhir tahun 40-an hijjriyah, kemudian untuk melangggengkan kekuasaanya (mulai turun-temurun dinasti). Muawiyah membuat ajaran baru yang disebut jabariyah. Ajaran jabariyah mengambil dasar “segala yang terjadi adalah atas kehendak Allah”, seperti yang tertulis dalam al-quran surah al-anfal:17.  “ Dan bukan  engkau memanah ketika engkau memanah melainkan Allah yang memanah”. Itu adalah salah satu ayat yang digunakan para kiyai untuk mendukung jabariyah. Mungkin para ulama, kyai yang ingin dekat dengan kekuasaan kemudian menyebarkan paham jabariyah tersebut.
            Akibat dari mnculnya paham jabariyah ini. Muncul pengemis-pengemis, ekonomi hancur, manusia banyak yang  tidak berusaha mencari rezeki, karena memandang rezeki telah diatur oleh Allah.
            Sebagai penyeimbang maka muncullah aliran bernama qodariyah yang dipelipori oleh  cucu Ali RA (muhammad bin ali muhammad binn abi talib). Faham ini memiliki kehendak mutlak, Allah tidak ikut campur dengan apa yang dilakukan manusia seperti yang tertulis dalam Al-quran surah Ar-ra’du:11 yang berarti “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya”. Disinilah mulai ada reformasi dan dapat menggatikan kekuasaan dinasti Umayyah digantikan dengan dinasti Abasyiah.
            Dinasti Abasiah ini murni pemerintahan yang memang maju pesat. Karena prinsip bahwa manusia tidak mengandalkan takdir, tetapi jika ingin berubah maka harus merubahnya sendiri. Sedangkan paham qodariyah sebagai kritik paham jabariyah, kemudian muncul faham mu’tazilah yang menjadi spirit pembangunan negara. Paham ini yang mulanya memberikan semangat pada manusia bahwa manusia memiliki hak mutlak, dan dengan perinsip akal. Segala sesuatu yang masuk akal adalah segala sesuatu yang harus dirasionalkan. Sehingga kebablasan karena semua serba akal dan semua kehendak manusia (akal mutlak). Hingga terjadi sebuah peristiwa ketika salah satu keturunan abbasiyah menggunakan paham mu’tazilah sebagai paham resmi negara sehingga timbul korban yang tidak mengikuti paham mu’tazilah akan diberikan panismen berupa hukuman mati dan lain sebagainya.
            Akhirnya lahir seorang ulama yang dulunya adalah aktifis mu’tazilah yang bernama Abu Hasan Al-Asy’ari menyatakan keluar dari paham mu’tazilah, beliu tidak berada dalam paham ekstrim  jabariyah ataupun qodariyah melainkan berada di tengah-tengah, beliau meproklamasikan kembali “ma ana ilaihi wa ashabihi” sebuah kelompok di mana Rosulullah saw dan para sahabatnya berada.
            Paham yang dideklarasikan oleh Abu hasan inilah yang disebut dengan ASWAJA. Kalau paham jabariyah mengatakan manusia tidak memiliki hak, qodariyah memiliki hak mutlak (free will). Teologi ASWAJA yang dirumuskan oleh Abu Hasan ini menyatakan bahwa manusia itu memiliki kehendak namun kehendak tersebut terbatasi oleh takdir Allah SWT.
            Paham ASWAJA konteksnya kembali pada semangat akal islam “ma ana  ilaihi wa ashabihi” yang dipelopori oleh dua ulama’ besar Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi ini dalam bidang tauhid atau teologi kemudian mendasar pada Ahlusunnah atau kebiasaan-kebiasaan Nabi saw dan para sahabat-sahabatnya artinya wal jama’ah. Kemudian lahir Imam Hanbali, Imam Hanafi, Imam Maliki, dan  Imam Safi’i. Imam Hanbali inilah yang menjadi korban dari kekuasaan Bani Abassiyah, ketika mengharuskan warganya menggunakan aliran yang dikembangkan mu’tazilah dalam bidang fiqih.  Dan masih banyak yang lain, tapi yang kita sering dengar atau kita kenal adalah ini. Yang kita sebut dengan empat mazhab.

Lamongan, 27 Mei 2016


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Revolusi Birokrasi Pendidikan

Oleh : Martian Bagas Kurniawan Mahasiswa Fakultas Agama Islam Program Study Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Darul Ulum Lamongan ( UNISDA ) th. 2014 Pendidikan  merupakan alternatif yang sangat terbaik dalam meningkatkan kualitas anak bangsa di Indonesia ini. Mencerdaskan kehidupan bangsa, begitulah ungkapan ideal tujuan pendidikan nasional Negara Indonesia yang tertera pada pembukaan UUD 1945 Alinea ke-4, artinya orientasi pendidikan harus di jadikan sebagai media pembebasan pikiran manusia dari kebodohan bukan malah menjadikan peserta didik untuk menjadi robot dan kerbau yang di colok hidungnya, sehingga hanya mampu mengikuti segala bentuk pembodohan yang tersistematis atau lebih sederhananya pendidikan yang tidak ilmiah dan terus diamini dalam bentuk dogma-dogma. Semua layak mendapatkan pendidikan, baik dalam masyarakat, lingkungan, maupun sekolahan. Semua bisa melihat bagaimana pendidikan di indonesia berjalan selama ini. Diskursus pendidikan bukanlah merupakan su...

RUMAHKU ISTANAHKU

Keduwul (Sukodadi) Lamongan, Sabtu (30/01/2021) bentuk rasa syukur  pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon AD-DAKHIL Unisda Lamongan  gelar acara tasyakuran dan peresmian Basecamp  sebagai wadah untuk belajar dan bediskusi serta pengembangan potensi bagi kader kader  PMII. Sebelumnya sahabat-sahabat PR.PMII AD-DAKHIL mencari kontrakan untuk di jadikan basecamp disekitar sukodadi  sebanyak 3 kali namun gagal karena terkendala oleh beberapa faktor, namun itu semua tidak menyurutkan semangat juang dalam mencari kontrakan.  Dalam acara tasyakuran dan peresmian basecamp berjalan dengan meriah karena juga di hadiri oleh Bapak Mulyono selaku kepala desa keduwul, dalam kesempatan ini Beliau  menyampaikan pesan bagi kader kader PMII Ad-Dakhil “ Dengan kehadiran mahasiswa mahasiswa Unisda harus mampu membawa perubahan di desa keduwul serta mampu mengabdi di masyarakat, seperti : ikut mengajar di TPQ dan Madrasah Diniyah ataupun yang lain”...

Menyambut Kedatangan Bulan Suci Ramadhan

Sakral,26/05,  meski banyak kesalahan yang disetiap harinya bertambah, baik disengaja maupun  tidak sengaja, baik melalui lisan, tingakah laku maupun perbuatan, di sadari maupun tidak disadari. Sebelum datangnya bulan suci Ramadhan PR PMII AD-DAKHIL menyambut dengan senang dan mengusung tema PMII KU SUCI. Kegiatan ini dilaksanakan di Ponpes & Panti Asuhan Al-Muawanah Rt (02) Rw(05) jl. Sunan Giri Lamongan. Kegiatan ini di pelopori oleh Sahabat Ana Akhirotun Nadiya (Ketupel) dan di ikuti puluhan sahabat-sahabat.  Dengan berbagai rangkaian acara, untuk mengawali kegiatan tersebut sahabat-sahabat mengawali dengan khotmil Qur’an di mulai sejak jam 8 pagi hingga pukul 11.30. karena bertepatan hari jumat, sahabat-sahabat kaum hawa harus meninggalkan tempat untuk melakukan sholat jumat berjama’ah. Seusai sholat jumat kegiatan berlanjut ke pembukaan opening ceremony, pemutar roda acara segera mengambil tempat dan berjalan seperti bagaimana pemutar roda acara ( MC ) sah...